Menuju Festival yang Mandiri Berkelanjutan, sebuah Utopia? (1 / 7)

Menuju Festival yang Mandiri Berkelanjutan, sebuah Utopia? (1 / 7)

Ada 5 model siasat pengelolaan sumber daya untuk penyelenggaraan festival yang akan diketengahkan di sini. Beberapa di antaranya merupakan pemain baru namun mempunyai kiat menarik sehingga pelaksanakaan agenda tahunan tetap berlangsung semenjak pertama kali dideklarasikan, yakni: a. Suran Tutupngisor (1937), b. Festival Lima Gunung (2003), c. Festival Tlatah Bocah (2007), d. Dieng Culture Festival (2010), e. Salaman Art Day (2004). Bagaimanakah pengorganisasian sumber daya mereka? 

Pada saat menyusun suatu agenda kita selalu dihadapkan pada kebutuhan sumber daya. Hal tersebut sering kali diartikan dengan anggaran yang notabene deretan angka. Kalau ditulis dalam rupiah angkanya besar. Kalau ditulis dalam dollar angkanya cuma 1 / 14.000 nya rupiah, sedikit khan? Bagaimana mengupayakan supaya agenda tersebut berlangsung sukses.

Tidak jarang ada rasa pesimis beberapa apakah sebuah penyelenggaraan bisa berlangsung sukses secara mandiri, tanpa ketergantungan pihak lain. Beberapa ciri dari kalangan ini adalah:

1. Menggantungkan ketersediaan sumber dayanya dari pihak lain yang ditarget (baca: mangsa). Level mereka tergantung kesempatan dan kemampuan, ada yang dari pintu ke pintu maupun lobi-lobi tingkat dewa,

2. Menjalani kegiatannya ketika mempunyai sumber daya yang pasti (dari pihak lain). Begitu dirasa sumber daya tidak mencukupi, agenda tidak jadi diadakan,

3. Malas berinovasi dan belajar dari komunitas lain sehingga yang dijalaninya monoton dari waktu ke waktu,

4. Sebutkan ciri yang lain yang Anda ketahui,

5. Sebutkan ciri yang lain lagi,

6. dll.

Selain itu, ada pula kelompok yang bisa dikatakan sebatas kaum utopis, yakni sesuatu yang cita-cita yang hanya dapat terjadi dalam khayalan yang terus dibayangkan dan didiskusikan namun tidak direalisasikan dalam praktek. Hal ini sebenarnya bisa didobrak jika mereka menata khayalan tersebut menjadi kenyataan dengan hal-hal yang riil, dimulai dari hal yang sederhana berangsur menjadi lebih kompleks

Pembatasan pengamatan dan pengalaman hanya pada 5 festival di sekitar penulis. Tentu saja pengalaman dari orang lain terhadap 5 festival tersebut mempunyai perspektif berbeda-beda. Di luar pembahasan di atas, sangatlah banyak fenomena menarik yang masih eksis sampai sekarang sebagai contoh Seren Tahun Ciptagelar (1368)Pesta Kesenian Bali (1979)Festival Kesenian Jogja (1989)Yogya Gamelan Festival (1996)Jember Carnival (2002). Selain itu, sangat banyak penyelenggaraan lain yang sangat menakjubkan kalau disebutkan satu per satu tidak akan pernah selesai dituliskan karena keberagaman seni dan budaya Indonesia.

(bersambung 2 / 7)

tlatahbocah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: