Blenger Festival, Sebuah Quo Vadis

Blenger Festival, Sebuah Quo Vadis

Sudahkah punya rencana sepanjang hari Jumat – Minggu, tanggal 5 – 7 Juli 2019? Jika Anda berada di kawasan Magelang dan sekitarnya, berbahagialah karena ada 3 agenda besar yang digelar bersamaan waktunya, yakni: 1. Festival Lima Gunung XVIII di dusun Tutupngisor, kec Dukun, 2. Festival Kali Elo di Bojong Mendut, 3. Borobudur International Arts and Performance Festival di Taman Lumbini Borobudur & Candi Pawon. Mengapa mereka menjadwalkannya bersamaan? Marilah kita kupas satu per satu.


Festival Lima Gunung dimulai tahun 2002 di dusun Warangan. Setiap tahun, anggota komunitasnya bergiliran menjadi tuan rumah. Tahun ini festival ke-18 berada di Padepokan Seni Tjipta Boedaja yang terletak di lereng Merapi. Tepatnya di dusun Tutupngisor, desa Sumber, kecamatan Dukun.

Festival Lima Gunung di Wonolelo tahun lalu

Tema Festival Lima Gunung XVIII 2019 adalah “Gunung Lumbung Budaya”. Menurut Sitras Anjilin, pimpinan Tjipta Boedaja, yang juga menjadi tuan rumah festival, kebudayaan masyarakat gunung tidak terbatas pada kekayaan alam, kesenian, dan tradsi desa, namun keseluruhan aspeknya menjadi nilai-nilai dan kearifan lokal yang menjadi kekuatan dalam kehidupan kesehariannya.

“Lumbung merupakan wadah penyimpanan hasil panen, semisal padi. Lumbung budaya mengacu pada kekayaan budaya masyarakat. Nilai-nilai budaya masyarakat gunung itu juga menjadi inspirasi bagi masyarakat luas,” jelasnya.

Tercatat sebanyak 77 komunitas seni yang akan menyajikan karya. Mereka berasal dari Jepang, Australia, Sulawesi, Indramayu, Bandung, Cirebon, Lumajang, Bantul, Yogya, Pati, Semarang, Wonosobo, Solo, Salatiga, Purworejo, Magelang, dll. Tentu saja diantaranya jugs dari lereng Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh. Seluruh pertunjukan dapat dinikmati tanpa tiket (gratis) oleh semua umur.

Ingin tahu rincian susunan acaranya, klik saja AGENDA FESTIVAl LIMA GUNUNG XVIII.

Ini dia lokasi Festival Lima Gunung:


Festival berikutnya adalah Festival Kali Elo. Festival ini merupakan kelanjutan dari festival yang sama pada tahun 2018. Penyelenggara kegiatan Pemerintah Kabupaten Magelang melalui Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga dengan menggandeng pengelola arung jeram dan komunitas seni, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Komunitas Kali Bersih Magelang, Satpol PP dan Pemadam Kebakaran, SAR Kabupaten Magelang dan warga pemerhati sungai di Kabupaten Magelang.

Iwan Sutiarso, Kepala Disparpora Kabupaten Magelang pada hari Selasa (02/07/2019) mengemukakan bahwa tema kali ini adalah “Sayang Elo” dengan tujuan peningkatan kunjungan wisata.

Pembukaan Festival Kali Elo 2018 berupa sendratari Bhumi Mahagelang. Festival diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Magelang.

Festival berlangsung di posko operator arung jeram Kaling Kalih dimulai hari Kamis, 4 Juli 2019 dengan acara bersih Kali Elo. Pada hari berikutnya, Jumat, 5 Juli 2019 acara berupa ritual sesuci kali, penanaman pohon, dan tebar benih ikan. Selain itu ada juga sendratari, lomba perahu hias, parade kesenian tradisional. Kejutan bagi pengunjung tahun ini adalah adanya konser spesial ‘Melody Kali’ oleh Letto Band dari Yogyakarta.

Salah satu panitia, yakni Affif mengatakan bahwa pentas kesenian tradisi terdiri dari 20 komunitas seni. Mereka merupakan hasil seleksi dari 80 komunitas seni kabupaten Magelang yang mendaftar sebelumnya. Pada parade kesenian ini akan dipilih beberapa pemenang yang berhadiah total 11 juta rupiah dan sertifikat penghargaan.

Penonton bisa bayar bisa tidak tergantung jenis acara yang disajikan. Berikut ini adalah lokasi tempat diselenggarakannya Festival Kali Elo:


Festival ketiga adalah Borobudur lnternational Arts and Perfomance Festival (BIAPF) yang telah berlangsung 4 kali semenjak tahun 2003. Sebelumnya festival ini bernama Borobudur International Festival (BIF), namun semenjak tahun 2018 lalu menjadi Borobudur lnternational Arts and Perfomance Festival.

Penyelenggara BIAPF adalah Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata Propinsi Jawa Tengah. Lokasi penyelenggaraan dibagi dua, yakni Taman Lumbini di Candi Borobudur dan pelataran Candi Pawon di Desa Wanurejo, Kecamatan Borobudur Kabupaten Magelang. Penampil yang akan beraksi berasal dari Provinsi Jawa Tengah, Lampung, DKI Jakarta, Banten, Sulawesi Utara, dan Aceh, Jawa Timur, Sumatera Selatan. Sedangkan dari luar negeri, tercatat seniman dari Spanyol, Meksiko, dan Hongaria.

Salah satu penampilan dalam Borobudur lnternational Arts and Perfomance Festival tahun 2018.

Kepala Disporapar, Sinoeng N Rachmadi pada hari Selasa (2/7) mengatakan tema acara adalah Harmony in Diversity yang bermakna terciptanya keserasian dalam keberagaman budaya dan peradaban Indonesia serta antar bangsa. Persiapan panitia pada festival sudah sudah mencapai 98 persen. Sisanya tinggal persiapan loading saja. Even ini gratis dan diharapkan menjadi milik masyarakat, bukan hanya oleh pemerintah daerah maupun panitia penyelenggara.

Sinoeng menambahkan bahwa pada tanggal 6 dan 7 Juli 2019 diselenggarakan juga pameran produk dan promosi pariwisata, kerajinan, dan kuliner dengan peserta dari kabupaten / kota yang ada di Jawa Tengah. Kegiatan ini berlangsung di Taman Lumbini, Candi Borobudur.

Selain itu itu ada agenda baru berupa Night Market (pasar seni rakyat dan pagelaran seni dan budaya) bertempat sekitar Candi Pawon, sepanjang jalan Balaputra Dewa, Desa Brojonalan Wanurejo, Kecamatan Borobudur.

Pembukaan BIAPF berlangsung Jumat malam (5/7/19) berupa kolaborasi kesenian nusantara dan internasional, serta kesenian tradisional yang lain.

Berikut adalah salah satu lokasi yang berada di Taman Lumbini di Candi Borobudur:


Jarak terjauh dari ketiga festival tersebut, yakni dari Padepokan Seni Tjipta Boedaja ke Taman Lumbini adalah 21 km. Sedangkan Candi Pawon dan Kaling Kalih cukup dengan Candi Borobudur. Semua lokasi bisa ditempuh dengan berbagai macam kendaraan. Hal yang agak susah jika menggunakan kendaraan umum karena harus berganti-ganti kendaraan dan jadwal yang tidak tentu.

Jarak tempuh dan jalur dari lokasi Festival Lima Gunung ke Borobudur International Arts and Performance Festival.

Hal yang unik disini adalah mengspa ketiga festival tersebut bisa berlangsung serentak padahal Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Magelang di awal tahun selalu rapat dengan perwakilan komunitas seni se kabupaten membahas agenda masing-masing kelompok.

Namun demikian, kesamaan jadwal adalah hal yang umum terjadi karena masing-masing penyelenggara mempunyai pemikiran, semangat, dan pangsa yang berbeda. Selain itu, keuntungan yang didapatkan bagi seseorang adalah bisa datang ke beberapa acara secara bergantian, apalagi kalau tamu luar daerah, ibarat sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui (one stop shopping).

Beruntunglah kami tahun ini mengadakan Festival Tlatah Bocah XIII pada tanggal 24 – 25 Agustus 2019 sehingga tidak keblinger blenger banyaknya festival. Memang, pada bulan Agustus pastilah banyak kegiatan level desa untuk memperingati kemerdekaan RI, namun segenap jejaring Tlatah Bocah, tuan rumah, serta pengisi acara sudah berbulat tekad mensukseskannya. Pas dengan tema tahun ini WAYAHE CANCUT TALIWANDA yang bermakna Saatnya Bersama-sama Terlibat Tanpa Memandang Umur, Jender, Suku, Agama, Status, dll.

Poster Festival Tlatah Bocah XIII. Tuan rumah tahun ini adalah dusun Bebengan, Kec Salama, Kab. Magelang. Semua pertunjukan gratis untuk siapapun. Berlaku untuk semua umur.

Adapun lokasi Festival Tlatah Bocah XIII berada di Dusun Bebengan, Desa Sriwedari, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang. Tepatnya berada di denah berikut ini:

tlatahbocah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: