Menjahit Persaudaraan, Mempererat Kekerabatan

Menjahit Persaudaraan, Mempererat Kekerabatan

Dingin pagi setelah subuh di bulan Juli dalam perjalanan dari Muntilan sampai ujung Jogja dekat bandara Adisucipto (+- 32 km) tidak terasa karena langsung dapat suguhan teh hangat saat mengantar kain kaos ke mas Hely, penjahit andalan Tlatah Bocah yang handal jepit.

Mas Hely ini selalu saja siap untuk diribeti di tengah kesibukannya menjahit dan menjahit. Spesialis kaos. Hal yang paling menyenangkan darinya adalah agenda yang tersusun rapi dalam time table di tembok ruang kerjanya. Setiap hari dia bersama kawannya hanya mau melayani 100 kaos pada hari Senin – Sabtu, jam 08.30 – 17.00 WIB. Tidak kurang tidak lebih. Padahal banyak pelanggan yang datang karena hasil yang memuaskan. Tidak ada kata lembur baginya. Kesehatan dan waktu keluarga adalah alasan utamanya.

Tumpukan kaos merah yang akan dikerjakan mas Hely hari ini. Setelah itu kaos putih Tlatah Bocah.

Demikian pula kami, selalu berkomunikasi dulu kapan jatahnya. Perbincangan selama dua minggu melalui Whatsapp menghasilkan kesepakatan bahwa jahitan kami akan dikerjakan seharian ini, Kamis 18 Juli 2019. Tawar menawar terjadi karena awalnya menyebut angka 50 – 100 kaos hitam dan putih. Dalam kenyataannya, saya membawa 200 an kaos. Ha… ha… ha… Hal itu terjadi karena banyak kawan tertarik mendukung Festival Tlatah Bocah XIII. Terima kasih atas kepercayaannya. Akhirnya disetujui mas Hely hanya membuat kaos putih dulu. Kaos hitam dikerjakan di waktu lain sesegera mungkin di sela-sela mengerjakan kaos milik pelanggan lain.

Jogja sebagai sekolah pelajar, tempat pariwisata, dan industri kreatif menjadikan berkah para seniman sablon dan penjahit. Di setiap sudut kampung banyak jasa sablon dan penjahit, bahkan warga di beberapa kampung mata pencaharian pokoknya dari jahitan. Semenjak 2004, Tlatah Bocah mengenal belasan tukang jahit kaos yang bersebaran diantaranya: Tempel, Turi, Sawitsari, Minomartani, belakang Ambarukmo, Mlati, dsb. Masing-masing penjahit ini punya karakter tersendiri. Ada yang menyusun jadwal rapi, ada yang asal terima jahitan dengan jadwal jadi kapan tidak ketahuan juntrungnya. Ada yang jahitannya rapi, ada yang asal-asalan.


Tumpukan lembaran kaos hitam dan putih +- 200 buah yang dikirim Tlatah Bocah ke mas Hely pagi ini.

Kaos selain sebagai cinderamata juga digunakan pada acara-acara yang melibatkan orang banyak. Selain itu, kaos menjadi sarana penggalangan dana. Satu hal yang mengejutkan dan menjadi inspirasi bagi kami adalah Salaman Art Day tahun 2018 lalu di desa Kaliabu, Kecamatan Salaman berhasil menjual kaos sebanyak 1300 an buah. Keberhasilan tersebut menjadikan pendanaan tanpa kendala berarti. Festival Salaman Art Day digelar rutin semenjak 2014 oleh Komunitas Lereng Menoreh. Tuan rumah penyelenggara berpindah-pindah dari dusun ke dusun di Kecamatan Salaman.

Hal-hal yang menyenangkan adalah ketika desain kaos menarik. Tahun lalu, saat Festival Tlatah Bocah XII bertemakan Holopis Kuntul Baris, kaos yang diproduksi selama 2 minggu sebelum acara, khusus untuk pemesan, ternyata diminati banyak orang. Begitu membawa kaos, ada saja yang membelinya. Demikian pula saat festival. Sungguh tidak terbayangkan namun sangat menggembirakan. Selidik punya selidik, ada beberapa alasan, diantaranya: 1. Desain / bahan / jahitan kaosnya menarik, 2. Ingin mendukung festival, 3. Memorabilia terhadap festival itu sendiri, 4. Harganya terjangkau, 5. Tidak punya ganti pakaian, 6. dll.

Desain kaos Festival Tlatah Bocah XIII yang bertemakan Wayahe Cancut Taliwanda

Tahun ini, persiapan pembuatan kaos lebih panjang. Ada waktu 2 bulan ketika desain selesai. Promo promo promo, kemudian eksekusi pembuatan kaos diselingi promo lagi. Penyablonan dilakukan oleh pemuda Bebengan, lokasi tempat festival. Hal ini untuk memberikan ketrampilan pada komunitas muda / mudi setempat. Mereka menyablon dengan panduan mas Lilix, seorang sabloner berpengalaman dari Salaman.

Sekedar saran dari saya. Jangan pernah melihat desain kaos Festival Tlatah Bocah XIII kami. Atau Anda akan terpana.

Pak Emon, master bordir dengan bangga ikut mempromosikan Festival Tlatah Bocah XIII.

Beberapa kejadian mengejutkan saat mengunjungi kawan-kawan, tiba-tiba tak disangka mereka order kaos. Virus menyebar. Salah satunya ke pak Emon. Dia ternyata tertarik dengan kaos yang kami produksi. Kebetulan warna putih dan ukuran yang dia inginkan pas ada sehingga hari berikutnya saya membawakannya. Apa hendak di kata, ternyata sang istri juga ingin kaos yang sama namun warna hitam, lengan panjang. Namun karena masih menunggu antrian jahitan, sehingga harus bersabar. Demikian pula ketika sehari kemudian saya membawa topi rimba untuk dibordir Festival Tlatah Bocah XIII. Pak Emon cerita bahwa dua anaknya sangat ingin akan kaos yang sama. Kesepakatan terjadi dengan barter. Jasa bordir topi festival di kurs kan dengan kaos festival. Win win solution.

Pak Emon adalah seorang jagoan pembuat bordir manual. Saya mengklaim bahwa dia merupakan seorang master di bidangnya. Pernah saya order Garuda Pancasila berdiameter 5 cm, dia kerjakan dengan teliti dan hasilnya woooowwww.

Bordir Garuda Pancasila berdiameter 5 cm karya Pak Emon

Jika kawan-kawan ingin tahu tentang cinderamata bordir, kaos, topi, tas, notes, gelang, dll. yang diproduksi untuk Festival Tlatah Bocah XIII, sila hub kami via Whatsapp:

tlatahbocah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: